Jakarta, MusicOtoBuz.com – PT Tentrem Sejahtera menegaskan komitmennya menghadirkan inovasi transportasi ramah lingkungan melalui peluncuran bus listrik lantai rendah dalam ajang pameran otomotif terbaru. Karoseri asal Malang, Jawa Timur itu juga menyoroti pentingnya kolaborasi industri dalam menghadapi tantangan emisi hingga kenaikan biaya produksi akibat inflasi global.
Direktur PT Tentrem Sejahtera Yohan Wahyudi menjelaskan, perusahaan yang telah berdiri sejak era 1980-an tersebut memiliki keunikan dibanding karoseri lain di Indonesia karena mengelola dua lini bisnis sekaligus, yakni jasa karoseri dan perusahaan otobus (PO).
“Kalau karoseri lain hanya membuat bus, Tentrem punya dua-duanya, karoseri sekaligus PO. Jadi kami banyak mendapatkan masukan langsung dari operasional di lapangan,” ujarnya saat ditemui di sela pameran Inapa, Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Menurutnya, berbagai inovasi yang dihadirkan Tentrem lahir dari pengalaman operasional armada sendiri. Masukan dari perusahaan internal dinilai membantu pengembangan desain hingga kenyamanan bus yang lebih sesuai kebutuhan pasar.
Dalam ajang pameran Bus Terbesar se Asia Tenggara tersebut, Tentrem menampilkan bus listrik berlantai rendah yang dirancang ramah bagi seluruh pengguna, termasuk penumpang berkebutuhan khusus. Selain itu, sejumlah armada lain yang dipamerkan telah menggunakan standar emisi Euro 5 dan Euro 4 guna menekan polusi seminimal mungkin.
“Sekarang tantangannya memang emisi dan elektrifikasi. Kami berusaha menghadirkan bus yang lebih ramah lingkungan sesuai kondisi bahan bakar di Indonesia,” katanya.
Tentrem juga menyoroti tantangan menuju implementasi bahan bakar B50 di Indonesia. Menurut perusahaan, adaptasi terhadap regulasi baru tidak dapat dilakukan sendiri, melainkan membutuhkan sinergi dari berbagai pihak di industri otomotif.
“Mulai dari pembuat bodi, mesin, AC, sampai kursi harus berkolaborasi untuk menciptakan bus yang sesuai regulasi, tetap nyaman, aman, dan efisien,” sambung Yohan yang melanjutkan tongkat kesuksesan PT Tentrem generasi kedua.
Salah satu inovasi yang diperkenalkan ialah konfigurasi kursi pada model Grand Captain. Dengan rancangan tersebut, kapasitas penumpang dapat bertambah tanpa mengurangi standar kenyamanan maupun keselamatan kendaraan.
“Dengan konfigurasi yang sama, kami bisa menambah dua kursi lagi. Jadi operator punya potensi pendapatan lebih tanpa harus melebihi batas GVW dan kenyamanan penumpang tetap terjaga,” kata dia.
Dari sisi produksi, Tentrem mengklaim proses pembuatan satu unit bus dapat diselesaikan dalam waktu sekitar 45 hari kerja hingga dua bulan, tergantung spesifikasi dan kebutuhan konsumen. Harga satu unit bus disebut berada pada kisaran Rp2,3 miliar hingga Rp2,8 miliar.
Di tengah kenaikan nilai dolar AS dan harga bahan baku, perusahaan mengakui biaya produksi mengalami peningkatan, mulai dari spare part hingga pelumas. Namun, Tentrem mencoba menyiasatinya melalui inovasi desain dan efisiensi operasional.
“Harga bahan baku memang naik semua. Tapi kalau kapasitas penumpang bisa bertambah dan operasional tetap efisien, itu bisa membantu menahan laju inflasi biaya,” tutupnya.















